Tanya Jawab Fiqh Islam: Tata Cara Shalat Berjamaah Dua Orang Yang Benar

Tanya

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ustadz Abdurrahman Navis yang saya hormati. Saya ingin bertanya mengenai perihal shalat berjamaah. Saya masih awam jika shalat berjamaah, tapi hanya ada 2 orang, yakni saya dan seorang imam. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Baiknya apakah shalat berjamaah atau sendiri-sendiri jika hanya ada 2 orang?
  2. Bagaimana tata cara shalat berjamaah jika jumlahnya hanya 2 orang saja?
  3. Lalu, jika dipertengahan shalat, jamaahnya bertambah menjadi 3 atau lebih bagaimana tata caranya yang benar?

Demikian pertanyaan yang saya sampaikan. Atas penjelasan dan bimbingannya, saya mengucapkan terima kasih.

Haris M, Banyuwangi 

Jawaban

Wa’alaikumussalam wr.wb

Pak Haris Mustafa yang saya hormati. Shalat berjamaah itu lebih baik daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat.

Hal ini sesuai hadits, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya), kitab Al Adzan, bab fadhlu shalatul jama’ah no 609).

Untuk pelaksanaan sjalat berjamaah adalah sebagai berikut:

  1. Labih baik shalat berjamaah walau hanya ada 2 orang, karena berjamaah sudah dianggap cukup minimal 2 orang.
  2. Tata caranya shalat berjamaah sebagai berikut; imam di depan dan makmumnya dibelakang imam sebelah kanan, dekat dengan imam, tapi kakinya tidak sampai lebih maju dari kaki imam.
  3. Kalau datang jamaah lagi dipertengahan shalat, makmum yang lama mundur dengan pelan, dan makmum yang baru berdiri dibelakang imam sejajar dengan makmum lama. Kalau datang lagi makmum langsung mengisi shaf sampingnya dengan lurus dan rapat.

Lebih jelasnya Pak Haris bisa praktek langsung dengan guru terdekat atau lihat video tutorial shalat jamaah.

Pak Haris, shalat sangat dianjurkan berjamaah, walaupun di rumah dengan istri dan keluarga. Tapi, kalau shalat di masjid lebih sempurna.

Hal ini sesuai anjuran sangat dari Nabi. Seorang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid.”

Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, sehingga diperbolehkan shalat di rumah. Kemudian Beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan adzan shalat?” Dia menjawab, “Ya”, lalu Beliau berkata, “Penuhilah.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam.

Sumber: KH. Abdurrahman Navis, Via Yatim Mandiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: