Konsultasi Agama Islam: Hukum Bekerja di Bank Konvensional

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ustadz, saya bekerja pada sebuah bank konvensional milik pemerintah di Malang sudah berjalan 6 tahun. Saya mendengar pengajian di Masjid bahwa bunga bank konvensional itu haram. Saya sudah beberapa kali ingin keluar dari pekerjaan tersebut, tetapi setiap ingin keluar, teman-teman menasehati untuk tidak keluar, karena itu akan berdampak lebih buruk mengingat saya sebagai tulang punggung keluarga yang harus menghidupi lima orang. Teman saya bilang pekerjaan apapun pasti berhubungan dengan bank. Ustadz mohon tausiahnya untuk masalah saya ini. Terimakasih. (081338XXXX).

Jawaban

Wa’alaikumsalam wr.wb.

Sahabatku, Syaikh Yusuf Al Qorodhowi mengatakan bahwa sistem ekonomi Islam ditegakkan pada asas memerangi riba dan hal tersebut (riba’) sebagai dosa besar yang akan menghilangkan berkah dan akan mendatangkan bencana dunia akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al Baqarah 278-279).

Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam : “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah”. (HR. Hakim)

Di Hadits lain Ibnu Mas’ud meriwayatkan: “Rasulullah  Shallallahu alaihi wasalam melaknat orang yang makan riba, dua orang saksinya dan penulisnya”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi). Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini bukan hanya berkaitan dengan pegawai bank, akan tetapi sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum.

Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam : “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Terlepas dari itu semua, perlu diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan perbankan tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan penitipan barang  dan surat berharga, pengiriman uang dan sebagainya.

Oleh sebab itu tidak mengapa menerima (melakukan) pekerjaan tersebut, meskipun hatinya tidak rela, dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perbaikan menuju kondisi yang diridhai Allah Ta’ala dan juga hatinya, sambil berupaya mencari pekerjaan yang diridhoi Allah Ta’ala serta lebih menenteramkan hatinya, sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya.

Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam: “Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang diniatkan”‘. (HR. Bukhari)

Fuqaha mengistilahkan bahwa kebutuhan pokok inilah yang menjadikan penanya untuk menerima, tetap bekerja di bank, untuk mencukupi tanggungjawab atas keluarganya.

Firman Allah Ta’ala: “…tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al Baqarah 173).

Oleh : Ust Dhaw’ul Qomar, via Muzakki

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: