Tanya Jawab Fiqh Islam: Pemanfaatan Kulit Hewan Qurban

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ustadz Navis yang saya hormati. Alhamdulillah di tahun ini saya mampu melaksanakan qurban seekor sapi untuk keluarga saya. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Bolehkan kulit dari hewan qurban dijual untuk memberikan upah bagi si pemotong hewan?, jika tidak boleh, bagaimana cara pemanfaatan kulit hewan qurban tersebut?
  2. Mana yang lebih baik membagikan daging qurban secara mentah atau sudah diolah (dalam bentuk kornet maupun sosis)?

Atas perhatian serta jawaban dari Ustadz Navis, saya ucapkan terima kasih.

Hadi, Malang

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jawaban

Wa’alaikumsalam wr.wb.

Pak Hadi yang saya hormati. Alhamdulillah bapak diberi rezeki oleh Allah bisa berqurban tahun ini, semoga diterima oleh Allah Ta’ala dan menjadi kendaraan yang mengantarkan bapak dan keluarga ke surga. Aamiin

Baik pengasuh jawab pertanyaan bapak:

1. Haram hukumnya kulit qurban dijual oleh orang yang berqurban atau yang mewakili (panitia), juga haram diberikan kepada jagal pemotong hewan qurban sebagai upah atau ongkos kerja.

Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut: Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasalam memerintahkan untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatupun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”. (HR. Muslim).

Dari Hadits ini, An-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa tidak dibolehkan untuk memberi tukang jagal yang diambilkan dari sebagian hasil sembelihan qurban sebagai upah baginya.

Juga dalil keharaman lainnya adalah dalil umum tentang haramnya menjual daging hewan qurban berikut ini: “Orang yang menjual kulit hewan qurban, maka tidak ada qurban baginya”. (HR. Al-Hakim)

Hadits ini menyebutkan haramnya menjual kulit hewan qurban. Maka mengupah jagal dengan kulit atau bagian tubuh lainnya hukumnya haram. Sebab sama saja seperti kita menjual kepada kepada pihak lain. Jadi seharusnya upah jagal diberi ongkos tersendiri yang diambilkan dari orang yang berqurban atau sumber lainnya.

Lalu kulit qurban dimanfaatkan untuk apa? Bagikan semua kepada mustahiq, setelah diterima oleh mustahiq boleh dimakan atau dijual atau digunakan yang lain. Hal ini sesuai Hadits Abu Sa’id. Nabi Shallallahu ‘alahi wasalam bersabda, “Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu dan sembelihan udh-hiyah (qurban). Tetapi makanlah, bershodaqohlah dan gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu menjualnya”.

2. Lebih baik dibagikan mentahnya, tapi boleh diolah menjadi kornet atau sosis kalau itu dianggap  lebih manfaat (al-mausu’ah al fiqhiyah. Bab al udhiyah). Wallahu a’lam.

Oleh: KH. Abdurrahman Navis LC, MHI. Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur, via Yatim Mandiri

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: